Welcome to Catatan Rahma

Selasa, 03 Juni 2014

Bukan Cerita Biasa

Bukan Cerita Biasa

Cinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.

 

Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan dikampus. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah bercanda gurau habiskan masa-masa penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta.

Tak terasa masa-masa dikampus akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita dihidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka karena akan berpisah selamanya.


Rara dan Saputra, selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.

Meski Saputra tahu Rara tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah untuk mencintai kekasihnya. Hanya saja, Saputra tak kuasa menahan air matanya manakala Rara memintanya untuk pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai satu bulan lagi menikmati dunia.

Gazebo, tepat didepan ruang kelas akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya suasana kampus, tempat yang penuh akan kenangan manis mereka. Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang.


Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Saputra, memburamkan pandangannya agar Rara menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Rara lah pemilik hati Saputra seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa.

Tak sedikit air mata Saputra yang tertumpah untuk Rara, manakala melihat tempat yang

sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan.

Tak kalah hebat cinta Rara untuk Saputra, mengorbankan rasa menjadi hal yang sangat biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Saputra tidak akan merasakan luka dihatinya. Meski ceroboh tapi Rara melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.

Tak terasa sampai pada waktu dimana satu bulan kebersamaan mereka hanya tersisa satu jam saja.

Tak banyak yang bisa dipersembahkan Saputra untuk Rara yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphone Saputra berdering. Tak lama membuka handphone, air matanya bercucuran di pipi. waktu anda tersisa 1 jam Begitulah yang tertulis pada catatan handphonenya. Pantas air matanya Saputra berderai.

“Kenapa Saputra menangis.” Tanya Rara..

“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Air mata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Saputra hanya tersenyum agar Rara tak mengkhawatirkan perasaannya.

“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” Tepisnya ragu perasaan Saputra. Saputra hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Rara.

“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” Ucap Saputra menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Saputra.

Air mata tulus mulai meleleh dari mata Rara. “Sudah saatnya cintamu diperbaharui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.” Ucap Rara. “Kalaupun ku dapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbaharui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.” Tegas Saputra.”

            “Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?” Tanya Rara. “Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”Jawab Saputra.

Rara menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.

“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”

“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”

“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Rara terbata-bata dengan air mata yang membasahi pipinya.

“Bagaimana ku bisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.”

“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Saputra dengan air mata yang perlahan menetes.

“Biarkan sampai ia mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”

“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”

“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Rara mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya mulai memberat.

Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski air mata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.

Selesai...

●●Doa Cintaku●

●●Doa Cintaku●●

Cukuplah sudah banyak kisahku
Mulai mengecap cinta hingga kutemukan satu
Satu nama terpatri dalam kalbu

Kini kisah panjang berlabuh dalam ikatan suci
Kau dan aku berjanji saling mengasihi
Arungi biduk hingga akhir nanti
Denganmu kisah ini kan kujalani

Ingatkan aku tuk teguh dikala rapuh
Tuk tegar dikala harapan pudar
Tuk istiqomah dijalanNya yang terarah
Tuk bersyukur atas nikmat yang tak terukur

Hari ini, genggam tanganku
Dan kan kita raih sejumput asa
Dan padamu hari ini kutitipkan segenggam hati
Sirami ia dengan kasih sejati
Padamu kutitipkan selangkah jiwa
Terangkan ia dengan sejuta cinta
Padamu kutitipkan seutuh raga
Jagalah ia dan buat bahagia
Padamu kutitipkan bahtera keluarga
Imamkan dan jadikan kelak taman disurga

Minggu, 22 Desember 2013

Satu Ibu Pada Hari Ini Selama Satu Jam

Ketika aku membuka mata untuk pertama kalinya di dunia, engkaulah yang pertama kali kulihat, kutatap dan kutangisi. Berharap engkau memeluk ku, mencium ku, menimang ku, dan menyusuiku disaat aku kehausan dan kelaparan.
Aku sudah menjadi sorang anak yang lucu, mungil dan cantik. Aku yang selalu membuatmu tertawa melihat kelakuan konyolku. Disaaat aku menangis aku memanggilmu, disaat aku sakit aku juga memanggilmu. Semua masa kecilku kulalui bersamamu ibu.
Saat ini aku sudah beranjak remaja ibu. Aku telah lupa apa yang telah kulewati bersamamu. Aku selalu lupa dengan kehadiranmu yang selalu memberiku semangat. Mungkin engkau sedih, karena aku selalu sibuk dengan kesibukan-kesibukanku disekolah yang selalu membuatku lupa ada engkau yang menungguku dirumah.
Kadang, aku marah dengan sikapmu yang memarahiku. Aku selalu menganggap kau tak menyayangiku disaat kau marah. Tapi itulah aku, anakmu. Kau tetap tersenyum disaat aku marah kepadamu, walaupun kadang kau menagis melihat tingkah laku ku yang membuatmu kecewa.
Aku selalu lupa denganmu. Dulu semasa aku kecil, kebahagiaanku selalu kuisi bersamamu. Tapi sekarang, kebahagiaan itu tak pernah kuisi bersamamu. Hanya kesedihan yang selalu kubagi bersamamu. Tapi, engkau tetap tersenyum kepadaku. Kau tak pernah mengeluh dengan apa yang telah engkau hadapi untuk membuatku terus berkembang menjadi seorang anak yang kau inginkan. Sedangkan aku tak pernah berpikir bagaimana kerasnya engkau bekerja untuk membiayai agar aku bisa menjadi apa yang aku mau, sehingga bisa membuatmu bangga.
Aku terus beranjak menjadi seorang anak yang dewasa. Sehinnga aku terus lupa denganmu. Kesibukan-kesibukanku pun bertambah sehingga aku selalu lupa ada Ibu yang menungguku dirumah dengan rasa gelisah dan bertanya-tanya.
Hari ini tanggal 22 Desember 2013 aku mengingat semua apa yang telah kulalui selama bertahun-tahun. Aku telah membuat Ibu sepi, gelisah, dengan segala rasa yang telah engkau rasakan. Aku telah melupakan jasamu Ibu yang selalu menjaga, merawat, dan mendidik ku. Aku teringat sebuah lagu yang pernah kau nyanyikan untukku.
Kubuka album biru Penuh debu dan usang Ku pandangi semua gambar diri Kecil bersih belum ternoda
Pikirkupun melayang Dahulu penuh kasih Teringat semua cerita orang Tentang riwayatku
Kata mereka diriku slalu dimanja Kata mereka diriku slalu dtimang
Nada nada yang indah Slalu terurai darinya Tangisan nakal dari bibirku Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat tubuh ini Jiwa raga dan seluruh hidup Rela dia berikan
Oh bunda ada dan tiada dirimu Kan slalu ada di dalam hatiku
Engkau adalah satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku. Karena engkau selalu setia menungguku, menemaniku, dan orang yang pertama memberi semangat untukku.
Walaupun aku hanya diberi waktu satu jam untuk bersamamu, aku ingin menciummu, memelukmu dengan erat, meminta maaf atas segala apa yang telah kulakukan terhadapmu, dan menyanyikan sebuah lagu yang selalu membuatku mengingatmu.
By.Rahmawati (22 Desember 2013)

Senin, 01 Oktober 2012

●●Surat Hawa Untuk Adam●●



Assalamu’alaikum Adam…..
Maafkan aku jika coretan ini memanaskan hatimu. Sesungguhnya aku adalah Hawa, temanmu yang kau pinta semasa kesunyian di syurga dahulu. Aku asalnya dari tulang rusukmu yang bengkok. Jadi tidak heran jika perjalanan hidupku senantiasa inginkan bimbingan darimu, senantiasa mau terjaga dari landasan, karena aku buruan syaitan.
Adam… Maha suci Allah yang mentakdirkan kaumku lebih ramai bilangannya dari kaummu diakhir zaman, itulah sebenarnya ketelitian Allah dalam urusanNya. Jika bilangan kaummu mengatasi kaumku niscaya merahlah dunia karena darah manusia, kacau-balau lah suasana, Adam sama Adam bermusuhan karena Hawa. Buktinya cukup nyata dari peristiwa Habil dan Qabil sehinggalah pada zaman cucu-cicitnya. Pun jika begitu maka tidak selaraslah undang-undang Allah yang mengharuskan Adam beristeri lebih dari satu tapi tidak lebih dari empat pada satu waktu.
Adam… Bukan karena ramainya isterimu yang membimbangkan aku. Bukan karena sedikitnya bilanganmu yang menganggu fikiranku. Tapi… aku risau, gundah dan gulana menyaksikan tingkahmu. Aku sejak dulu sudah tahu bahwa aku mesti tunduk ketika menjadi isterimu. Namun… terasa berat pula untukku menyatakan sesuatu jika kamu salah.
Adam… Aku tahu bahwa dalam Al-Quran ada ayat yang menyatakan kaum lelaki adalah menguasai terhadap kaum wanita. Kau diberi amanah untuk mendidik aku, kau diberi tanggungjawab untuk menjaga aku, memerhati dan mengawasi aku agar senantiasa didalam ridha Tuhanku dan Tuhanmu. Tapi Adam, nyata dan rata-rata apa yang sudah terjadi pada kaumku kini, aku dan kaumku telah ramai mendurhakaimu. banyak yang telah menyimpang dari jalan yang ditetapkan. Mulanya Allah mengkehendaki aku tinggal tetap dirumah. Di jalan-jalan, di pasar-pasar, di bandar-bandar bukanlah tempatku. Jika terpaksa aku keluar dari rumah seluruh tubuhku mesti ditutup dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tapi.. realitanya kini, Hawa telah lebih dari sepatutnya.
Adam… Mengapa kau biarkan aku begini? Aku jadi ibu, aku jadi guru, itu sudah tentu katamu. Aku ibu dan guru kepada anak-anakmu. Tapi sekarang diwaktu yang sama, aku ke muka menguruskan hal negara, aku ke hutan memikul senjata. Padahal, kau duduk saja. Ada diantara kau yang menganggur tiada kerja.
Adam… Marahkah kau jika kukatakan andainya Hawa terbelenggu, maka Adam yang patut tanggung! Kenapa? Mengapa begitu ADAM? Ya! Ramai orang berkata jika anak jahat ibu-bapak tak pandai mendidik, jika murid bodoh, guru yang tidak pandai mengajar! Adam kau selalu berkata, Hawa memang bandel, tak mau dengar nasihat, keras kepala, pada hematku yang dhaif ini Adam, seharusnya kau tanya dirimu, apakah didikanmu terhadapku sama seperti didikan Nabi Muhammad SAW terhadap isteri-isterinya? Adakah Adam melayani Hawa sama seperti psikologi Muhammad terhadap mereka? Adakah akhlak Adam-Adam boleh dijadikan contoh terhadap kaum Hawa?
Adam… Kau sebenarnya imam dan aku adalah makmummu, aku adalah pengikut-pengikutmu karena kau adalah ketua. Jika kau benar, maka benarlah aku. Jika kau lalai, lalailah aku. Kau punya kelebihan akal manakala aku kelebihan nafsu. Akalmu sembilan, nafsumu satu. Aku…akalku satu nafsuku beribu! Dari itu Adam….pimpinlah tanganku, karena aku sering lupa, lalai dan alpa, sering aku tergelincir oleh nafsu. Bimbinglah daku untuk menyelami kalimah Allah, perdengarkanlah daku kalimah syahdu dari Tuhanmu agar menerangi hidupku. Tiuplah ruh jihad ke dalam dadaku agar aku menjadi mujahidah kekasih Allah.
Adam… Andainya kau masih lalai dan alpa, masih segan mengikut langkah para sahabat, masih gentar mencegah mungkar, maka kita tunggu dan lihatlah, dunia ini akan hancur bila kaumku yang akan memerintah. Malulah engkau Adam, malulah engkau pada dirimu sendiri dan pada Tuhanmu yang engkau agungkan itu…
Wassalamu’alaikum