Welcome to Catatan Rahma

Minggu, 15 Juni 2014

Rasa....

Status kakak adik memanglah berbeda tipis dengan status berpacaran .

Sama-sama mengeluarkan perhatian kan ?

Kamu lah yang selama ini mengajarkan aku tentang malu, canggung, menyembunyikan rasa.

Iya rasa.. Kamu mengertikan apa maksud ku ? Rasa yang melebihi status kakak beradik, membuat hati ku selalu nyaman dengan pria yang tiba-tiba merangsuk masuk dalam ingatan dan jengkal nafas ku ini .

Meskipun aku tak berharap banyak, namun tak ada salahnya aku berharap yang indah bukan ? Sering kali rasa cemburu pun menghampiri ketika kamu bercanda dengan sahabat perempuan mu. Aku mengerti memang tak layak untuk cemburu.

Memang jatuh cinta sulit untuk di definisikan, hanya soal hati yang berbicara .

Aku tak ingin kebahagiaan ku berubah menjadi derai air mata, aku ingin selalu bahagia bersamamu. Sehingga hati aku mati rasa akan kesedihan dan luka. Tumpukan kebahagiaan semakin sempurna ketika kamu dan aku menjadi kita.

Rasa nyaman kini berubah menjadi rasa takut kehilangan. Menyebalkan bila kamu sulit untuk di tebak, aku takut untuk menerjemahkan isyarat yang kau tunjuk kan kepada ku. Tolong hentikan langkah ku jika memang segalanya yang ku duga benar dan di mata mu salah. Tolong kembalikan aku disaat ku tak pernah mengenalmu. Ketahuilah aku sedang melawan perasaan yang menggebu ini, aku tak percaya kita bisa sedekat ini. Dan selama ini juga aku kehilangan kendali untuk berucap aku menyukai mu . Dia menemukan ku dalam tumpukan paku yang menghujam, dia menemukan ku dalam posisi yang terjatuh dalam pelampiasan amarah. Ia menarik tangan ku, menyelamatkan ku lalu memeluk ku dan menenang kan ku.
Benar kita tak saling memiliki, terjadi seperti mimpi . Namun aku percaya cinta telah hadir di tengah tengah kita, entah dengan akhir yang ku sukai ataupun ku benci.
Namun bisa kah jemari ku mengendalikan ini semua? atau aku pasrah saja dengan keinginan mu.. untuk melanjutkan atau mengakhiri selamanya. Sungguh aku tak pernah percaya cinta tanpa tatapan mata juga tanpa genggaman . tapi mengapa aku merasa takut kehilangan?

 


Sabtu, 07 Juni 2014

Aku Tau Ini Sakit Tapi Aku Terlanjur Sayang


Kamu tau rasanya jadi Aku? Setelah 2 minggu ini kita jalanin hubungan ini bareng berdua tanpa masalah sebesar ini. Aku udah sreg sama kamu, aku merasa nyaman sama kamu, aku terlanjur sayang sama kamu. Tapi kamu? Kamu mengabaikan seakan-akan aku bukan siapa-siapa kamu lagi, iya aku ngerti ini sakit. Tapi aku bertahan demi sayang aku, demi hubungan ini. Aku nggak tau hal apa yang udah ngerubah kamu sampai sejauh ini. Apa masalah yang kita alami ini  alasan kamu buat menjauh dari aku? Aku bingung, seharusnya kamu bisa bersikap dewasa buat masalah ini. Kita udah dewasa, kita udah besar harusnya kita selesaikan masalah ini sama-sama. Kita nggak perlu saling jauh-menjauh seperti ini.  Aku nggak pernah marah disaat kamu menjauhi aku, aku tetap tersenyum disaat kamu cuekin aku, aku sabar banget karna aku yakin sama kamu.
Kamu nggak bisa ngalahin ego kamu? Harusnya kamu bisa mengendalikan ego itu. Nyesek iya jelas, tapi kepercayaan itu udah terlanjur aku serahin ke kamu. Aku gak mau pemikiran kamu seperti anak kecil. Cuman gara-gara apa yang telah terjadi semuanya.
Bukannya kamu yang memulai duluan megang tanganku? Bilang suka sama aku? Bilang 'I LOVE YOU' kalau bukan kamu, lalu itu siapa yang bilang? Kenangan kita udah mulai banyak, nggak gampang buat aku melupakan semua itu. Apalagi waktu kamu ngasih cincin sebagai tanda kalu kamu nggak akan pernah jauh dari aku. Aku bingung, apa selama ini kamu udah bohongin aku? Kamu bilang I Love You? Kamu bilang sayang? Kamu bilang serius? Terus ini apa maksudnya? Jujur aku nggak bisa benci sama kamu, aku tetap sayang sama kamu.
kamu pilih apa? Kamu pilih buat tetap menunggu dia yang disana. Tapi kamu bilang padaku 'Kamu Jangan Pergi'. Oke, aku nggak pergi karena aku juga udah janji buat sama-sama terus bersama kamu, udah sayang banget sama kamu. Tapi kenapa kamu harus hancurin semua ini? Kamu semakin menjauh, kita lost contact. Sakit banget tapi aku tetap sabar, aku menahan semuanya, aku tetap kasih senyum buat kamu, karena aku nggak mau terlihat rapuh didepan kamu. Aku nggak mau sampai kamu down melihat aku rapuh seperti ini gara-gara kamu.

Selasa, 03 Juni 2014

Jadilah Wanita Tegar Teman…

Menjadi wanita kuat, tegar dan tegas itu harus. Jangan mau dijajah dengan namanya orang, perasaan apalagi uang. Terinspirasi dari sebuah kutipan “Aku harus tegar”. Aku juga harus tegas. Hingga Rasul bangga melihatku berjalan dimuka bumi dengan tegar dan tegasku. Namun semuanya itu tidak berarti tanpa ada sebuah kesabaran Karena Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Sabar menghadapi segalanya”.

            Hidup memang sebuah pilihan, kalaupun ternyata yang harus dipilih ternyata menimbulkan sebuah konsekuensi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan kita tetap harus bisa berdiri tegak jangan mau dikalahkan dengan keadaan. Kalau aku diposisi ini aku harus mencari penguat diri. Orang tua?? Yah orang tua adalah salah satu penguat utamaku karena mereka telah banyak memberikan dukungan, doa yang tiada terputus dan juga memberikan sebuah kepercayaan besar buatku sehingga besarlah pengharapan mereka terhadapku seperti apa aku kedepan nantinya. Dan tentu saja untuk mendapatkan kepercayaan dan restu ini tidak kudapati dengan cuma-cuma.  Pernah aku harus sedikit berargumen tapi tetap dengan kata yang santun karena bagimanapun mereka tetap orang tuaku yang harus aku jaga perasaannya. Dan selain itu sekarang pun aku harus berpisah jauh dalam waktu yang cukup lama dan masih banyak pengorbanan lainnya. Jadi kalaupun aku sampai jatuh terpuruk betapa sangat-sangat dan sangat ruginya aku.

            Salah satu penyebab keterpurukan bisa jadi karena bayang masa lalu. Yang lalu biarlah berlalu kawan. Yakinlah kalau semua itu memang episode hidup yang Allah takdirkan buat kita. Allah hanya ingin menguji sejauh mana hambaNya yang penuh khilaf dan salah ini berhasil memaknai hidupnya dan berhasil mengatasi masalah yang dihadapinya dengan cara seperti apa. Karena disinilah terlihat jelas sejauh mana kadar iman, kadar cinta pada sang Khalik tampak sangat jelas. Yang kalah akan terpuruk, tersungkur dan tak mampu bangkit lagi serta menyalahkan Allah kenapa merasa tak pernah berbuat adil. Sedangkan yang lolos, akan mendapat pengalaman berharga dan pastinya akan memaknai hidup kedepannya lebih baik lagi dan tidak akan mengulang pada kesalahan yang sama. Dan pada akhirnya nanti kita bisa berpikir dan mengambil kesimpulan kenapa toh harus mengingat-ngingat yang sudah lalu, karena yang lalu pasti takkan pernah kembali lagi. Dan belum tentu yang diingat pun balik mengingat balik diri kita. Capek deh menghabiskan waktu dan tenaga, sedangkan masa didepan masih banyak yang harus dihadapi, sudah menunggu untuk diselesaikan satu persatu.

            Selelsai...