Welcome to Catatan Rahma

Jumat, 12 Juni 2015

Renungan Sebelum Tidur



Sedih tak harus keluar air mata, sebab terkadang yang paling kencang tawanya adalah dia yang sedang menyembunyikan rasa pedih mendalam..

Tawa tak harus ditunjukkan dengan lengkungan senyum penuh suka cita, karena ada beberapa orang yang tak pernah ingin membagikan semburat hangat yang sedang memenuhi hati dengan sebuah  alasan privacy.

Kecewa tak perlu diungkapkan dengan beribu-ribu kata yang penuh dengan emosi yang meledak-ledak. Terkadang diam adalah cara terampuh untuk mengobati kalbu yang sudah penuh dengan retak.

 

Perasaan tak perlu diumbar.. karena kita hidup pada dunia nyata yang semuanya telah diatur Dia yang Maha Kuasa..

Tidak semua rasa perlu ditunjukkan secara berlebihan, sebab kita bukan actor dan artis yang sedang berlakon dalam sebuah drama dan sinetron. Yang semuanya dikemas melebihi batas agar segala sesuatu bernilai jual dan terkesan sangat dramatis.

Hiduplah seadanya..
Apalagi ketika sebenarnya kenyataan, engkau memiliki segalanya.

Kenapa? Karena berlebih-lebihan adalah bukan ajaran. Meskipun pada realita, engkau mampu memborong semua tanpa takut kehabisan harta.

Kendalikanlah diri, apalagi ketika kepunyaanmu mampu mengeluarkan sifat dengki dari manusia yang mungkin tak memiliki apa yang kau punya. Sebab terkadang secara tak sadar, kitalah penyebab mereka melakukan dosa..

Sederhana saja.. 
Sebagaimana sederhananya suri tauladan kita, manusia yang paling mulia sepanjang sejarah dunia, Muhammad bin Abdullah.

Karena sesungguhnya kesederhanaan itu jauh lebih berharga dari logam mulia.

Sederhana itu akan membawamu  satu langkah mendekat pada arah pintu syurga ketika kau menyadari bahwa apapun yang engkau punya adalah bukan semata-mata karena kegigihanmu dalam berusaha sebagai manusia namun tk lain karena perwujudan dari sifat Ar-RahmanNya..

Rabu, 08 April 2015

Pemilik Hati..



Kepada pemilik hati,
Hai, selamat pagi. Aku ingin menyapamu dengan sederhana. Kucurahkan rindu melalui pesan singkat. Bukankah itu akan membuatmu tenang di sana, mengabarkan kalau aku baik-baik saja di sini. Aku selalu berharap kau membalasnya, meski pada kenyataannya kau tetap tak membalas pesan singkatku. Aku tetap menunggu.

Asal kamu tau, ketika aku menunggu balasanmu, apa yanng kulakukan adalah selalu membaca ulang pesan yang kau kirimkan, pesan itu masih tersimpan rapi.
Kenapa kamu berubah? Bahkan tak membalas pesanku.

Hai, selamat siang. Sejak pagi aku masih menunggu. Sambil menghitung waktu dan menabung rindu menunggu kabarmu. Entahlah, kau pergi kemana. Mungkin, kau masih tenggelam dengan kesibukanmu. Aku harap kau baik-baik saja di sana. Aku selalu berharap bisa tetap tegar, yakin, serta berpikir positif tentang semua ini.

Belum ada kabar, aku menantimu penuh debar. Resah menantimu penuh sabar. Tak ada yang lebih tabah, selain menunggu angin mengirimkan rinduku.

Hai, selamat malam. Aku masih menunggu dan tetap kau abaikan. Aku ingin kau menelponku sehingga aku bisa mendengar suaramu. Tapi, kau seakan tak peduli. Sebenarnya, aku ingin bercerita banyak hal malam ini.

Rasanya itu takkan pernah terjadi lagi. Kau tenggelam oleh kesibukanmu dan melupakanku. Aku tak pernah bosan menunggumu hingga larut, sekedar mendengar suaramu dan perasaanku tak pernah surut. Rindu ini yang berkehendak, memaksaku tetap bertahan meski tanpa kepastian.

Aku ingin mengembalikan ingatanmu tentang apa yang pernah kita lewati bersama. Hari demi hari yang kita jalani bersama. Tentang perasaan yang sempat meragu dan kau datang menyakinkanku. Aku sadar, kau begitu berarti bahkan sebelum kau pergi. Diam-diam aku masih berharap kau kembali, atau setidaknya memberiku kabar sekali.

Apakah kau lelah dan ingin menyerah? Sedangkan aku di sini menanti dengan tulus. Aku ingin hubungan kita seperti sediakala, mengembalikan senyum yang hilang dan canda tawa.

Kini aku menyapamu. Aku yang menantikanmu sejak pagi. Kemudian, menghitung waktu sampai siang hari. Kemudian, menghitung waktu sampai siang hari. Tetap bertahan merindukanmu sampai petang. Aku melakukan apa yang dulu kau lakukan, menanyakanmu, mencemaskanmu, mengkhawatirkanmu, dan memendam cemburu. Lalu, kau ke mana? Sudah seharian lenyap tanpa jejak tak terlihat.

Sadarkah kau kalau setiap hubungan, ada aku dan kamu, menjadi kita. Bukan hanya aku di sini yang mempertahankanmu. Bukan hanya aku yang mengingatkanmu tentang menjaga hati dan perasaan. Bukan hanya aku yang setia dan percaya tentang cinta.

Mungkin, kau tengah dilanda jenuh dan perasaanmu kini merapuh. Pernahkah kau berpikir semalaman aku tak sanggup memejamkan mata hanya menunggu kabarmu? Aku masih tetap setia sampai bintang mampu menutup mata dan terlelap di angkasa.

Pernahkah kau sadari kalau aku tertatih mempertahankanmu, tapi aku tak pernah menyerah untuk pergi, Karena aku ingin hidup dalam mimpi-mimpimu..


Ajariku Menjadi Muslimah

             
Untuk kesekian kalinya surat-surat ini kutulis di atas kertas putih kosong. Ya, kertas itu kosong setelah beberapa tahun silam kucoret-coret dengan tinta kepahitan. Yang kusebut kenangan terindah, namun kini semua itu menjelma jadi tusukan duri yang hampir rapuh. Hingga kubiarkan saja rapuh, agar ia segera hilang dari ingatanku. Ku genggam jiwa yang kusebut cinta, agar ia tetap menjadi penghuni di hatiku yang renta ini. Ku genggam senyuman insan yang kumiliki agar ia memperindah lembah hati yang sunyi ini menjadi seberkas bianglala. Sangkaku salah. Genggaman semakin erat cinta itu semakin pudar, hilang. Senyum itu semakin hambar aku sruput bak kopi hitam yang mendingin sedari dulu.
Aku lepas!
Aku hilang kendali!
Aku jatuh, Sakit!

Aku berteriak seperti burung cangak yang meneriakkan suaranya di malam yang pekat.
Aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan, atau jajanannya.
Sesekali ku panggil ibu..
Sesekali ku gapai ibu..
Sesekali ku bertelepati dengan ibu..

Namun ibu tetaplah jauh dari hatiku. Tetaplah di sudut kota kelahiranku, dan aku. Aku di sudut kota yang ku sebut lembah sunyi. Lembah sunyi yang menghilangkan cinta dari hatiku. Lembah sunyi yang menyudutkanku terus menerus semakin dalam, dalam, dan dalam. Tanpa penerangan, tanpa lentera. Namun aku masih memgang sebuah tongkat yang diturunkan dari syurga, Ibu. Tongkat itu adalah ibu.

Di dalam lembah sunyi, ku terus berjalan menyusuri lorong waktu. Yang ku tahu waktu itu seperti kereta yang hanya berhenti di stasiun saja. Setelah ia pergi, maka ia tidak akan peduli dengan penumpangnya yang ketinggalan. Aku tidak mau! Aku tidak mau ketinggalan waktu itu. Aku bangkit dan berjalan di atas kerikil-kerikil tajam yang terinjak kakiku. Kemana? Untuk apa? dan pada siapa aku akan melabuhkan diriku ini. Allah. Allah yang akan menampungku, bebanku, tangisku, juga semua yang ku angkut bersama jiwa yang tak sepadan dengan-NYA.

Terus dan terus ku melaju. Akhirnya kutemukan setitik cahaya pengganti hilangnya Cintaku. Persahabatan. Persahabatan yang kurasakan sungguh ini baru pertama kali. Kuraba ia sangat membingungkanku. Bagaimana tidak? Aku yang ingin berbagi kasih bersamanya, namun mereka menghadirkan sekelumit cinta. Antara segitiga yang ku tahu tidak akan menemukan kesejajaran. Persahabatan yang menyita pikirku tidak sejalan dengan nuraniku. Aku telah dihadapkan dengan persimpangan. Arah mana yang akan aku tapaki? Atau aku akan berputar arah yang telah jauh aku tinggalkan? “TIDAK!!” teriaku dalam hati. Aku tidak akan berputar arah lagi. Aku akan terus berjalan, berjalan dan berjalan mengikuti lorong waktu itu. Aku yakin lorong waktu itu belumlah sampai pada tujuanku. Benar. Itu belum sampai.

Ah, aku tidak peduli lagi dengan persahabatan yang menyita waktuku itu. Yang menghadirkan persimpangan di hadapku. Kuteruskan saja jalan ku, ku lanjutkan saja menjadi masinis yang mengemudikan kereta ku. Lama, ya terlalu lama aku mengemudikannya. Terkadang aku lelah, terkadang aku jenuh, terkadang aku sepi. Tapi, tunggu! Bukankah di depan itu ada setitik cahaya yang bisa kutangkap dengan mataku. Senyumku renyah saat kutemui itu memang benar-benar cahaya. Cahaya yang awalnya memberi kehangatan bagiku. Cahaya yang awalnya memberi penerangan bagi jalanku. Cahaya yang kurasakan bahagia bila ia mengecup hatiku. Cahaya yang mencuatkan cinta untukku. Bahagia bukan? YA, aku bahagia atas hadirnya cahaya itu. Cahaya yang ku sebut Cinta. CINTA? lagi-lagi cinta. Tidak.. ini bukan cinta. Ini adalah sepercik dari kilatan cahaya sejati yang aku rasakan sesaat saja.

Seiring waktu yang berputar namun pasti. Aku merasakan lagi kehambaran, keredupan atas cahaya itu. Semakin hari semakin gelap, pekat. Cahaya itu hilang, melayang tiada kudapatkan lagi. Kumencari-cari sampai ke sela tumpukan jerami, namun tiada kutemui. Kutanyai pada malam-malam yang berbintang, tetap saja ia membisu. Atau cahaya itu menyinggahi hati yang lain, setelah tahu hatiku ini terasa hambar, pahit.

Aku terduduk lesu menyaksikan cahaya itu menerangi hati yang lain. Hingga mata ini menghadiahkan hujan yang tiada reda untuk kuusap sekilas saja. Ranting yang mulai mencabangkan akar-akar cinta, kini merapuh lagi. Bunga yang ingin terkecup oleh wangi cahaya cinta, akhirnya layu juga. Hingga ku terbangun dari mimpiku, dan menyusuri lorong waktu kembali. Sekelumit cahaya-cahaya cinta itu hanyalah hilirnya saja. Biar kubawa sepenuh hatiku yang hancur ini berjalan menemui hulu sang pencipta Cinta. Karena aku tahu cinta suci itu akan bertumpu pada ALLAH..

Rabu, 31 Desember 2014

Sepertiga Malam, Dia Untukku



Sepertiga Malam, Dia Untukku
Masih pukul 03.00 WIB dini hari. Mentari pun belum bertahta di peraduannya, bahkan daun-daun hijau di belakang rumah masih kedinginan  bermandikan tetesan embun. Enggan sekali jika terpaksa bangun dari mimpi yang menyemai keindahan dikala malam hanya untuk kejar target yang katanya “Orang bisa kaya kalau rutin bangun lebih pagi dari ayam, atau cepet dapat jodoh kalau sesenggukan tengah malam.” Lah… lah… lah, yaa jadinya ibadah kejar setoran itu.
Tapi kali ini sedikit berbeda, kesannya jadi lebih pengen cepet-cepet membasuh raga dengan air wudhu dan segera sujud bersimpuh pada Empu-Nya alam semesta, walau udara lagi dingin-dinginnya. Maklumlah kawan, hati lagi “Galau” kata anak jaman sekarang nyebutnya begitu. Alasannya, siang tadi ngeliat doi lagi asyik ngobrol sama ‘Rumput Tetangga’. Ditambah lagi, teguran dari ayah bunda tentang nilai kuliah yang makin merosot dan beberapa teman pasang wajah Bad Mood, hmmm. Lengkap sudah galaunya pikiran ini. Belum lagi, berondongan kata-kata sarat nasihat pun tak hentinya diboyong oleh sang ayah tercinta. Ya, harusnya itu mbiasa. Namanya juga orangtua, pasti pengen dong anaknya nggak kesaingi oleh anak-anak tetangga sebelah. Biar dicap sebagai orangtua yang berhasil gitu. Okelah oke. Fine.
Dengan sempoyongan karena masih ngantuk, akhirnya basah juga kulit ini oleh guyuran wudhu pertamaku pagi ini. Ku nikmati sepertiga malam itu untuk berkeluh. Tentang apa saja, apapun yang terlintas dalam hati dan pikiran. Kali ini, hati yang lebih banyak berbicara. Karena lisan tak mampu mereplika kata-kata yang untuk diucap. Sepanjang keluhan, muncul pertanyaan-pertanyaan yang entah seperti apa akan terjawab. Tentang siapa jodoh, jadi apa selepas kuliah, seberapa lama aku diberi nyawa? Yang jelas, pertanyaan-pertanyaan itu nggak bakal kejawab kalau belum waktunya. Iya kan kawan? Renungan berakhir saat ta’mir mesjid mengumandangkan adzan subuh dengan suara nyaringnya yang khas dan rutin terdengar tiap 5 kali sehari.
Ku ambil sajadah, dan beranjak pergi berjama’ah. Sepulangnya, sambil jalan, ku nikmati panorama langit kala subuh. Subhanallah, bermandikan sisa purnama hari itu. Dan sedikit kedamaian ku rasakan dari relung hati yang penat akan hiruk pikuk urusan duniawi. Situasi ini, setidaknya cukup untuk merefresh segala memori yang terlampau stress dengan pikiran yang bejibun nggak karuan.
Handphone berdering, beberapa pesan masuk yang terabaikan, dan salah satunya dari dia. Maklumlah, lagi ngggak ada niat untuk membalas. Walhasil, ku non-aktifkan Handphone. Masalah? Sepertinya biasa saja. Di dapur, selayaknya anak perempuan yang lain. Ku sempatkan bantu-bantu ibu, wajar kan? Walaupun cuma kebagian sesi kupas-kupas bawang, potong-potong sayuran atau bolak-balikin gorengan. Ibu yang sedari tadi diam, akhirnya memulai pembicaraan. “Anaknya ibu Wit (temen ibu ku) yang perawat itu minggu depan nikahan sama polisi, tetangganya Ustadz Amir kemarin lamaran ama TNI, nah ponakannya bude Rifah denger-denger udah resepsi sama anak pejabat. Kok enak-enak gitu yah nak jodohnya.” Curhat ibu, yang pada intinya ingin aku seperti mereka. Dengan enteng ku jawab “Bu, nggak semua yang kaya begitu tuh mesti enak hidupnya. Misalnya aja nih, jadi istri polisi. Kalo polisinya main serong kanan kiri kan rumah tangga gak karuan, terus kalo TNI, lagi dinas tiba-tiba kena dooor dan mati, akhirnya menjanda apa lagi anak pejabat, hari gini bu’, pejabat nggak korupsi itu jarang sekali. Makan uang rakyat, wah bisa malu 7 turunan bu. Hehehe” Ibu cekikian mendengar jawabanku sembari mengelus kepalaku dan kembali berkata “kamu nih, paling bisa deh kalau ngeles. Emang Caca maunya dapet jodoh yang seperti apa?” secepat kilat ku jawab “masih belum kepikiran bu.” Padahal hati udah kelabakan pengen nyebutin macem-macem kriterianya yang sholeh, enak dilihat, apa adanya, jujur, adil, bijaksana, ramah, setia, ngerti keluarga, baik hati, dan lain sebagainya. Byuh.. byuh.., anak siapa yah yang seperti itu?.
Jam menunjukkan 05.40 WIB. Waktunya mandi, buru-buru melahap sepotong roti dan pergi. Walaupun pesan ayah hati-hati, tetep aja di jalan kebut-kebutan. Maklum lah, uber-uberan sama macetnya jalan. Di parkiran kampus, motor doi udah terparkir anteng lengkap dengan helm silver berlogo “A”. tapi hari ini temanya lagi cuek. Jadi ya, EGP gitu. Oh ya, perlu diketahui yah, gak ada hubungan spesial antara saya dan dia. Hanya saja, saya terlanjur kagum dan ngefans. Mendadak gerogi, jalan sendiri ke kelas. Takutnya papasan terus jadi salah tingkah. Alhasil, jalan ala maling, sembunyi-sembunyi gitu.
Niatnya emang ngggak pengen ketemu hari ini, tapi setan-setan pada berisik ngomporin aku biar cemas nyari dia. Berhubung yang dicari gak muncul juga, jadilah aku pulang dengan perasaan yang nggak karuan. Dalam pikir yang amat panjang, ku putuskan. Mulai hari itu aku tak kan lagi berhubungan dengannya serta tidak menghiraukan apapun tentang dia. Mulanya memang susah, tapi setelah beberapa lama nyatanya aku jadi terbiasa. Hanya panjatan doa yang senantiasa ku haturkan lewat isyarat tak bernada. Dalam penantian, yang begitu panjang. Sederhana saja, aku selalu berucap “jika dia untuk ku maka dekatkanlah, tapi jika bukan berilah aku keikhlasan dan jauhkan kami dari godaan setan”. Sebuah doa yang wajar.
Teman, mungkin ada yang bertanya-tanya seperti apakah dia?. Lain mata, lain cerita. Tapi apapun itu bagi ku dialah yang ku impikan. Dia rajin ibadah, enak dilihat, apa adanya, jujur, adil, bijaksana, ramah, setia, ngerti keluarga, baik hati, dan yang penting dia mampu membuatku menunggu. Seseorang yang sederhana, dengan senyum yang sederhana namun bagiku dia istimewa. Bagaikan mutiara yang tersimpan dalam kerang dan jauh di dasar laut. Entah siapa yang kan mampu menjamahnya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu mendekatkan diri pada Ridho Ilahi. Itulah dia di mataku, dan tanpa terasa aku telah mengaguminya begitu lama. Tanpa bertatap muka, tanpa berkomunikasi selama itu. Dan aku masih selalu mengaguminya hingga kini. Karena begitu lama tak mengetahui tentangnya, aku merasa rindu. Rindu kesederhanaannya, rindu senyumnya dan rindu untuk bisa menyaksikan ketenangan sikapnya. Tapi biarlah hanya aku dan Dia yang tau. Aku memang sengaja menjauh untuk menghindari ketidak ridhoan Allah terhadapku.
Maka suatu ketika, kala rindu mencapai puncaknya, di penghujung malam sebagaimana biasa. Saat derai hujan menemani keluhku padaNya. Aku benar-benar meminta, dengan linangan air mata yang jatuh apa adanya. Sebagaimana Hawa merindukan Adam, aku mengucap “Yaa Allah, yang maha Berkuasa atas dalamnya hati. Aku telah cukup lama menanti. Aku meminta seperti apa lagi, Kau pasti lebih tau hatiku. Yaa Allah yang Maha pengasih, halalkan dia untuk hamba, agar sempurna langkahku di jalan-Mu. Aku tak butuh sosok rupawan bagaikan Yusuf a.s, atau hartawan bagai Sulaiman a.s, aku hanya minta dia sebagai imam dalam hidupku kelak. Ampuni jika doaku memaksa Yaa Allah, hanya pada-Mu aku mengatakanya. Bahwa aku sungguh ikhlas menyayangi dan menerimanya. Maka izinkan aku hidup bersamanya.” Doa itulah kawan, yang rutin muncul tiap 5 waktu dan sepertiga malam terakhir. Setiap saat, sepanjang waktu sejak saat itu dan bertahun-tahun kemudian. Walau pada akhirnya wisuda memaksa kami tak lagi bernaung dalam institusi yang sama, doa ku tetap begitu, tak berubah, tetap meminta dia yang sekarang entah dimana dan seperti apa. Sesekali aku menanyakan kabarnya pada teman, pun mereka telah lama tak berhubungan. Ku hubungi nomor yang masih tersimpan, ternyata sudah kadaluarsa tak terpakai. Ku hela napas panjang. Memikirkan kembali semua kenangan. Tetap tak kutemukan dia dimana. Tiba-tiba bisikan lembut dari dalam hati meyakinkan diri, dia di sana, di hatiku. Dan akan tetap di sana hingga saatnya tiba.
Usiaku 22 tahun sekarang, dan aku masih tetap menunggunya. Masih saja mencintainya seperti bertahun-tahun lalu. Ayah dan ibuku yang mulai beruban kini lebih sering menanyakan kapan anak gadis sulungnya ini naik pelaminan, dan aku hanya selalu mengatakan agar mereka bersabar sembari tersenyum datar. Yaa, kau tau teman. Aku menunggunya begitu lama dan entah berapa lama lagi untuk ku menunggu walaupun ia tak tau. Ku putuskan merantau keluar kota. Di ujung kota, sebuah desa terpencil yang masih kurang pendidikannya. Aku tinggal dan mengabdi di sana, belum lama. Masih berumur 6 bulan di sana. Dan telpon dari nomor rumah mengejutkan ku yang sedang mengajar kala itu. Ibu dan ayah meminta aku pulang segera. Setidaknya dalam dua hari berikutnya aku sudah di rumah. Dengan penuh tanda tanya di pikiranku, ku tutup telpon itu dan melanjutkan aktivitas. Seraya berpamitan pada anak-anak didik di sana tuk izin beberapa hari atau mungkin beberapa bulan. Esoknya, seusai subuh ku tinggalkan tempat bernaungku untuk kembali ke rumah memenuhi panggilan orangtua.
Hampir delapan jam perjalanan dari desa itu menuju rumahku dengan transportasi darat. Setiba di rumah, ibu dan ayah tidak menceritakan apapun pada ku. Mereka hanya memintaku mandi, sholat lalu istirahat. Malam hari, barulah mereka memintaku duduk di ruang tengah untuk mendengarkan alasan mereka memintaku bergegas pulang. “2 hari lalu, seseorang datang kemari. Dia datang tuk meminangmu. Ayah dan ibu rasa dia orang yang baik dan dia tepat untukmu nak. Lagi pula sudah terlalu lama kamu menunda untuk menikah dengan berbagai alasan. Kami takut Allah memanggil kami sebelum sempat melihatmu naik ke pelaminan” tutur ayah. “ibu dan ayah sepakat tuk menerimanya dan besok pagi, Insya Allah dia akan kembali bersama orangtuanya.” Sahut ibu yang seketika itu membuatku terpatung membisu. Syok tak karuan wujudnya dengan perasaan sedih dan kecewa serta bercampur sedikit amarah aku berkata “ayah dan ibu ini apa-apan? Soal pernikahan kan bukan hal yang mudah. Salah langkah bisa jadi kacau hidup ku, bu, yah. Kenapa ayah dan ibu tidak menanyakan paadaku dulu? Kenapa langsung diiyakan? Bagaimana kalau dia bukan orang baik-baik seperti dugaan ayah dan ibu?” Aku menangis dan berlari ke kamar. Malam itu, rasanya aku tak ingin hidup tuk sesaat. Ayah dan ibu yang mengerti perasaanku membiarkan aku sendiri tanpa menggangguku sama sekali. Aku menangis sejadinya, sesenggukan semalaman. Hingga adzan subuh ta’mir mesjid dekat rumahku kembali terdengar.
Aku bangkit dari kasur dengan wajah kusut dan mata berkantung-kantung efek dari tangisan semalam. Ku ambil wudhu dan kembali ke kamar. Ku laksanakan subuh itu penuh haru. Aku pasrah pada apa yang kan terjadi nantinya. Detik itu pun, aku masih saja meminta “Yaa Allah, yang maha Berkuasa atas dalamnya hati.. aku telah cukup lama menanti. Aku meminta seperti apa lagi, Kau pasti lebih tau hatiku. Yaa Allah yang Maha pengasih, halalkan dia untuk hamba, agar sempurna langkahku di jalan Mu. Aku tak butuh sosok rupawan bagaikan Yusuf a.s, atau hartawan bagai Sulaiman a.s, aku hanya minta dia sebagai imam dalam hidupku kelak. Ampuni jika doaku memaksa. Yaa Allah, hanya pada-Mu aku mengatakanya. Bahwa aku sungguh ikhlas menyayangi dan menerimanya. Maka izinkan aku hidup bersamanya.” Masih saja mengharapkan dia. Lalu aku diam, mengenang aku menatapnya tanpa sengaja, senyum sederhananya yang sampai kini tak terlihat lagi. Aku pergi mandi, berdandan ala kadarnya dengan tangis yang masih sesenggukan.
Pukul 9 pagi minggu itu, ibu mengetuk kamarku. Memintaku keluar dan menemui tamu yang baru saja masuk dalam rumah. Saat itu pun aku masih mengharapkannya. Ibu memeluk ku erat. Menatapku dengan senyum dan menuntunku keluar kamar. Langkah terasa berat, lorong rumah pun terasa sepanjang tembok China. Aku berjalan dengan kepala tertuduk tanpa berniat mengangkatnya sedikitpun.
Mataku masih sembab dan ibu mendudukkan ku di antara ayah dan ibu. “ini putri kami, mohon maaf masih lesu. Mungkin masih capek karena baru pulang dari rantau kemarin” ucap ayahku mencairkan suasana. Tiga orang di hadapanku itu nampaknya sibuk memperhatikan wajahku yang sedari tadi tertunduk. Ibu memintaku mengucap salam pada mereka. Dan kuucap itu tanpa irama. Dalam pembicaraan yang panjang menit-menit berikutnya, aku tetap tertunduk dan membayangkan senyum sederhana milik seseorang di luar sana. Tak lama kemudian, ibu dan ayah mengisyaratkan agar aku menegakkan kepala agar mereka bisa mengenaliku. Perlahan ku angkat kepala walau dengan terpaksa. Ku amati detail ujung kaki orang di hadapanku ini. Semakin ke atas, dan terhenti di pandanganku terhadap senyum itu. Hey, sepertinya aku mengenalinya. Aku pernah melihat senyum itu sebelumnya. Dan, ya memang itu lah senyum yang aku tunggu selama ini. Sekarang, dia benar-benar di sini. Dengan hati terkejut, haru dan bahagia. Ku sematkan senyum penuh takjub di bibirku.
Butiran air mata membasahi wajah, aku mengenalinya. Dia di sini, apa dia benar-benar di sini? Dia tersenyum padaku. Dan senyumnya masih seperti dulu. Aku bahagia bercampur haru, bagaimana bisa? Entahlah. Tapi dia benar-benar nyata. Dia datang pada orangtua ku tuk memintaku dan beberapa waktu kemudian kami dihalalkan dalam ikatan suci layaknya Muhammad dan Khodijah. Aku bahagia tak terkira. Tuhan mengijabah doaku. Dia benar-benar untuk ku.